
Melamar kerja bukan cuma soal seberapa banyak CV yang kamu kirim.
Kalau dalam seminggu kamu sudah melamar ke 20, 30, bahkan 50 lowongan, ada satu masalah yang sering muncul: kamu mulai lupa sudah melamar ke mana saja.
“Ini perusahaan yang kemarin sudah aku lamar atau belum?”
“Yang ini sudah interview atau baru kirim CV?”
“Deadline-nya kapan, ya?”
“Harus follow-up lagi nggak?”
Kalau pertanyaan seperti ini mulai sering muncul, kamu butuh job application tracker.
Kabar baiknya, kamu tidak perlu aplikasi khusus untuk membuatnya. Google Sheets atau Microsoft Excel sudah cukup.
Dengan spreadsheet sederhana, kamu bisa mencatat semua lamaran kerja dalam satu tempat dan mengetahui posisi setiap lamaran tanpa harus membuka kembali email atau chat satu per satu.
Kenapa Perlu Tracking Lamaran Kerja?
Saat sedang mencari kerja, sangat mudah untuk fokus pada jumlah lamaran yang dikirim.
Misalnya:
Hari ini sudah kirim 10 lamaran.
Kelihatannya produktif. Tapi setelah beberapa hari, kamu mungkin sudah lupa:
- Perusahaan mana saja yang sudah dilamar?
- Posisi apa yang dilamar?
- Kapan CV dikirim?
- Apakah sudah mendapat balasan?
- Kapan harus follow-up?
- Sudah sampai tahap interview atau belum?
- Lamaran mana yang masih punya peluang?
Di sinilah tracking lamaran kerja menjadi penting.
Dengan tracker, proses mencari kerja bisa berubah dari sekadar “kirim CV sebanyak-banyaknya” menjadi proses yang lebih terukur.
Kamu bisa melihat perjalanan setiap lamaran dari:
Applied → Screening → Interview → Test → Offer → Hired
atau jika tidak berhasil:
Applied → Rejected
Jadi, kamu tidak hanya tahu berapa banyak lamaran yang sudah dikirim, tetapi juga tahu apa yang terjadi setelah CV dikirim.
Cara Membuat Spreadsheet Tracking Lamaran Kerja
Kamu bisa membuatnya menggunakan Google Sheets karena bisa dibuka dari laptop maupun HP.
Buat satu spreadsheet baru, kemudian buat beberapa kolom berikut.
| Kolom | Fungsi | | ----------------- | ----------------------------------------------------- | | Tanggal Lamar | Kapan kamu mengirim lamaran | | Perusahaan | Nama perusahaan | | Posisi | Posisi yang kamu lamar | | Link Lowongan | Link menuju lowongan | | Sumber | LinkedIn, Jobstreet, Glints, website perusahaan, dll. | | CV yang Digunakan | Versi CV yang dikirim | | Status | Status terbaru lamaran | | Tanggal Interview | Jadwal interview jika ada | | Follow-up | Kapan perlu follow-up | | Catatan | Informasi tambahan |
Contohnya:
| Tanggal Lamar | Perusahaan | Posisi | Sumber | Status | Follow-up | | ------------- | ----------- | ----------------- | --------- | --------- | ---------- | | 5 Agustus | PT ABC | Digital Marketing | LinkedIn | Applied | 12 Agustus | | 6 Agustus | PT XYZ | SEO Specialist | Jobstreet | Interview | - | | 7 Agustus | Startup DEF | Content Writer | Glints | Screening | 10 Agustus |
Dengan format seperti ini, kamu bisa melihat semua proses pencarian kerja hanya dari satu halaman.
1. Catat Tanggal Saat Melamar
Kolom pertama yang sebaiknya kamu buat adalah Tanggal Lamar.
Contohnya:
5 Agustus 2026
Tanggal ini penting karena nantinya bisa membantu kamu menentukan kapan harus melakukan follow-up.
Misalnya perusahaan biasanya membutuhkan beberapa hari untuk merespons. Jika sudah cukup lama tidak ada kabar, kamu bisa mengecek kembali apakah sudah waktunya menghubungi recruiter.
Jangan hanya mengandalkan ingatan.
Kalau kamu melamar ke puluhan perusahaan, mengingat semuanya hampir tidak mungkin.
2. Catat Nama Perusahaan
Buat kolom khusus untuk nama perusahaan.
Contohnya:
- PT ABC Indonesia
- Startup XYZ
- PT Digital Nusantara
- Company DEF
Usahakan menggunakan nama perusahaan yang jelas agar kamu tidak bingung ketika mendapatkan email atau panggilan dari recruiter.
Ini juga akan membantu ketika kamu ingin melakukan evaluasi:
Perusahaan seperti apa yang paling sering merespons lamaranmu?
3. Catat Posisi yang Dilamar
Jangan hanya mencatat nama perusahaan.
Posisi yang kamu lamar juga penting.
Misalnya:
- Digital Marketing Specialist
- SEO Specialist
- Frontend Developer
- UI/UX Designer
- Content Writer
Satu perusahaan bisa membuka beberapa posisi sekaligus. Jadi, mencatat posisi membuat tracking menjadi jauh lebih akurat.
Selain itu, setelah mengirim banyak lamaran, kamu bisa melihat posisi mana yang paling sering kamu lamar dan bagaimana hasilnya.
4. Simpan Link Lowongan
Ini salah satu kolom yang sering dilupakan.
Tambahkan kolom Link Lowongan dan simpan URL lowongan yang kamu lamar.
Kenapa?
Karena beberapa minggu kemudian, kamu mungkin sudah lupa detail pekerjaannya.
Dengan menyimpan link, kamu bisa kembali melihat:
- Job description
- Requirement
- Skill yang diminta
- Tanggung jawab
- Informasi perusahaan
Ini sangat berguna terutama ketika tiba-tiba mendapat panggilan interview.
Daripada panik mencari kembali lowongannya, kamu tinggal membuka link dari spreadsheet.
5. Catat Dari Mana Kamu Menemukan Lowongan
Tambahkan kolom Sumber Lowongan.
Contohnya:
- Jobstreet
- Glints
- Kalibrr
- Website perusahaan
- Referral
- Grup WhatsApp
- Networking
Data ini ternyata bisa sangat berguna.
Setelah memiliki cukup banyak data, kamu bisa mengetahui platform mana yang paling menghasilkan.
Misalnya setelah 100 lamaran:
| Sumber | Lamaran | Interview | | --------- | ------: | --------: | | LinkedIn | 40 | 6 | | Jobstreet | 30 | 2 | | Glints | 20 | 1 | | Referral | 10 | 4 |
Dari data tersebut, kamu bisa melihat bahwa referral mungkin memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan job board biasa.
Artinya, strategi mencari kerja kamu tidak harus selalu:
“Kirim lebih banyak CV.”
Tetapi bisa berubah menjadi:
“Cari channel yang memberikan hasil lebih baik.”
6. Gunakan Kolom Status
Kolom status adalah salah satu bagian terpenting dari job application tracker.
Kamu bisa menggunakan status seperti:
- Wishlist
- Applied
- Screening
- Interview
- Technical Test
- Final Interview
- Offer
- Hired
- Rejected
- Ghosted
Contohnya:
PT ABC → Interview
berarti kamu tidak perlu lagi mencari-cari email untuk mengingat apakah perusahaan tersebut sudah menghubungi kamu.
Statusnya sudah tercatat di spreadsheet.
Buat Status dengan Dropdown
Kalau menggunakan Google Sheets, kamu bisa membuat dropdown untuk kolom status.
Dengan begitu, kamu tidak perlu mengetik status secara manual setiap kali.
Misalnya:
Applied ▼
Kemudian pilih:
Screening
atau:
Interview
atau:
Rejected
Ini membuat spreadsheet lebih rapi dan memudahkan kamu melakukan filter berdasarkan status.
7. Tambahkan Tanggal Interview
Kalau sudah mendapatkan panggilan interview, catat tanggalnya.
Contohnya:
12 Agustus 2026 — 10.00 WIB
Kolom ini membantu kamu melihat jadwal interview yang akan datang.
Kamu juga bisa menambahkan catatan kecil seperti:
Interview dengan HR melalui Google Meet.
atau:
User interview — Digital Marketing Manager.
Dengan begitu, kamu bisa melakukan persiapan dengan lebih baik.
8. Buat Kolom Follow-up
Ini bagian yang sangat penting.
Jangan sampai setelah mengirim lamaran kamu hanya menunggu.
Buat kolom khusus:
Tanggal Follow-up
Misalnya:
| Perusahaan | Tanggal Lamar | Status | Follow-up | | ---------- | ------------- | --------- | ---------- | | PT ABC | 5 Agustus | Applied | 12 Agustus | | PT XYZ | 6 Agustus | Screening | 10 Agustus |
Ketika tanggal follow-up sudah tiba, kamu bisa mengecek kembali lamaran tersebut.
Dengan cara ini, proses mencari kerja menjadi lebih aktif.
Namun, jangan melakukan follow-up secara berlebihan. Tujuannya adalah menunjukkan ketertarikan dan menjaga komunikasi, bukan mengirim pesan berkali-kali dalam waktu singkat.
9. Tambahkan Kolom Versi CV
Kalau kamu sering menyesuaikan CV dengan lowongan, kolom ini sangat berguna.
Misalnya kamu memiliki:
- CV Digital Marketing
- CV SEO
- CV Frontend Developer
- CV General
- CV ATS
Kemudian catat CV mana yang digunakan untuk setiap lamaran.
Contoh:
| Perusahaan | Posisi | CV | | ----------- | ------------------ | -------------------- | | PT ABC | SEO Specialist | CV SEO | | PT XYZ | Digital Marketing | CV Digital Marketing | | Startup DEF | Frontend Developer | CV Frontend |
Dengan begitu, kamu bisa mengevaluasi versi CV mana yang paling banyak menghasilkan interview.
10. Gunakan Kolom Catatan
Tidak semua informasi bisa dimasukkan ke status.
Karena itu, tambahkan kolom Catatan.
Contohnya:
Recruiter menghubungi lewat WhatsApp.
Diminta portfolio.
Sudah interview HR, menunggu user interview.
Salary expectation ditanyakan.
Technical test dikirim 8 Agustus.
Kolom ini berfungsi sebagai tempat menyimpan konteks penting yang mungkin kamu perlukan nanti.
Template Spreadsheet Tracking Lamaran Kerja
Kalau ingin membuatnya lebih sederhana, kamu bisa menggunakan struktur berikut:
| No | Tanggal | Perusahaan | Posisi | Sumber | Link | CV | Status | Interview | Follow-up | Catatan | | --: | ------- | ----------- | ----------------- | --------- | ---- | ---------- | --------- | --------- | --------- | ----------------- | | 1 | 5/8/26 | PT ABC | SEO Specialist | LinkedIn | Link | CV SEO | Applied | - | 12/8 | - | | 2 | 6/8/26 | PT XYZ | Digital Marketing | Jobstreet | Link | CV DM | Interview | 10/8 | - | HR Interview | | 3 | 7/8/26 | Startup DEF | Content Writer | Glints | Link | CV General | Screening | - | 11/8 | Portfolio diminta |
Tidak perlu membuat spreadsheet yang terlalu rumit.
Yang penting adalah kamu benar-benar menggunakannya.
Tracking Lamaran Bukan Berarti Harus Melamar Sebanyak-banyaknya
Ada satu hal yang perlu diingat.
Spreadsheet bukan alat untuk membuat kamu merasa produktif karena sudah mengirim 100 lamaran.
Tujuannya adalah membantu kamu memahami proses pencarian kerja.
Misalnya setelah 50 lamaran kamu mendapatkan:
- 50 lamaran
- 8 screening
- 4 interview
- 1 offer
Kamu sekarang punya data.
Dari sini kamu bisa mulai bertanya:
Kenapa 42 lamaran lainnya tidak berlanjut?
Mungkin masalahnya ada pada:
- CV kurang relevan
- Skill tidak sesuai requirement
- Posisi terlalu jauh dari pengalaman
- Portfolio kurang kuat
- Job description tidak dibaca dengan baik
- Persaingan terlalu tinggi
Data tersebut bisa menjadi dasar untuk memperbaiki strategi.
Gunakan Data untuk Mengukur Job Search
Setelah mengumpulkan data selama beberapa minggu, kamu bisa membuat beberapa metrik sederhana.
Application Rate
Berapa banyak lamaran yang berhasil kamu kirim?
Misalnya:
50 lamaran dalam 30 hari.
Response Rate
Berapa banyak perusahaan yang memberikan respons?
Misalnya:
10 respons dari 50 lamaran = 20%.
Interview Rate
Berapa banyak lamaran yang menghasilkan interview?
Misalnya:
5 interview dari 50 lamaran = 10%.
Offer Rate
Berapa banyak yang akhirnya memberikan offering?
Misalnya:
1 offer dari 50 lamaran = 2%.
Angka-angka ini bukan untuk membuat kamu stres.
Justru sebaliknya.
Dengan data tersebut, kamu bisa melihat bagian mana dari strategi pencarian kerja yang perlu diperbaiki.
Kalau Banyak Melamar Tapi Tidak Dipanggil, Jangan Langsung Menambah Jumlah Lamaran
Misalnya kamu sudah mengirim:
100 lamaran → 2 interview
Jangan langsung menyimpulkan:
“Berarti aku harus kirim 200 lamaran.”
Coba evaluasi dulu.
Apakah CV kamu sudah sesuai dengan posisi yang dituju?
Apakah pengalaman yang paling relevan sudah terlihat?
Apakah CV terlalu panjang?
Apakah kamu menggunakan CV yang sama untuk semua posisi?
Apakah portfolio sudah mendukung posisi yang dilamar?
Tracking spreadsheet membantu kamu melihat masalah ini dengan lebih objektif.
Bonus: Buat Dashboard Sederhana
Kalau ingin membuat tracking lebih serius, kamu bisa membuat halaman kedua bernama Dashboard.
Misalnya tampilkan:
Total Lamaran: 50 Screening: 8 Interview: 5 Technical Test: 2 Offer: 1 Rejected: 20 Menunggu Respons: 14
Kamu juga bisa membuat grafik sederhana untuk melihat perkembangan lamaran setiap minggu.
Dengan begitu, job search kamu terasa seperti sebuah project yang bisa dievaluasi, bukan sekadar menunggu email masuk.
Jangan Lupa: CV Tetap Menjadi Bagian Terpenting
Spreadsheet membantu kamu mengelola proses mencari kerja.
Tetapi spreadsheet tidak akan membuat recruiter tertarik kalau CV yang kamu kirim belum menunjukkan kemampuanmu dengan jelas.
Karena itu, selain tracking lamaran, pastikan CV kamu juga terus diperbaiki berdasarkan lowongan yang kamu incar.
Sebelum melamar, cek:
- Apakah posisi yang dituju sesuai dengan skill kamu?
- Apakah pengalaman yang relevan sudah terlihat?
- Apakah pencapaian ditulis dengan jelas?
- Apakah keyword dari lowongan sudah tercermin secara natural?
- Apakah CV mudah dibaca?
- Apakah portfolio sudah siap?
Kalau jawabannya belum, mungkin masalahnya bukan pada jumlah lamaran.
Mungkin CV-nya yang perlu diperbaiki.
Di buatcv.id, kamu bisa membuat CV yang lebih terstruktur dan menyiapkannya untuk kebutuhan lamaran kerja. Setelah CV siap, gunakan spreadsheet tracker untuk mencatat setiap lamaran dan melihat perkembangan job search kamu.
Baca juga: Berapa Banyak Lamaran Kerja Ideal Per Hari? Panduan Efektif
Kesimpulan
Mencari kerja bisa terasa melelahkan ketika semuanya dilakukan secara acak.
Kamu membuka LinkedIn, menemukan lowongan, kirim CV, kemudian pindah ke Jobstreet. Besoknya menemukan lowongan lain dan melakukan hal yang sama.
Lama-lama kamu tidak tahu lagi sudah melamar ke mana.
Dengan membuat spreadsheet tracking lamaran kerja, kamu bisa mengubah proses tersebut menjadi lebih teratur.
Catat minimal:
tanggal → perusahaan → posisi → sumber → CV → status → interview → follow-up → catatan.
Setelah datanya terkumpul, jangan hanya menyimpannya.
Baca datanya.
Lihat berapa banyak lamaran yang menghasilkan respons, posisi mana yang paling sering memanggil kamu, platform mana yang paling efektif, dan di tahap mana kamu paling sering berhenti.
Karena mencari kerja bukan cuma tentang melamar lebih banyak.
Tetapi tentang melamar dengan lebih baik.
Baca juga: Hari Apa HRD Paling Sering Membuka Lamaran?